Keyakinan akan usaha yang saya rintis akan berhasil semakin besar karena produk pertama saya ternyata bisa diterima market, tetapi bagaimana dengan kemasannya ? perijinan dan lain sebagainya ?
Banyak pertanyaan-pertanyaan timbul dalam benak saya yang timbul karena waktu itu saya terkendala masalah pembiayaan.
Akhirnya saya menemukan sebuah toko kemasan yang bisa beli kemasan botol plastik dalam jumlah sedikit di Surabaya, dan untuk label kemasan saya cetak dengan printer dari rental didekat rumah. Jadilah saya punya produk sendiri.
Tiap hari saya keluar rumah untuk memasarkan produk yang awalnya saya beri merek PROZYME dari kantor ke kantor dengan naik angkot.
Setiap kali saya berangkat selaju optimis dan harapan akan ada pemilik modal dan keperdulian dari pemerintah daerah yang peduli dengan perjuangan saya.
Satu hari, dua hari, satu minggu sampai sekian bulan hari-hari saya lewati dengan harapan dan impian untuk mewujudkan cita-cita ini. Dari satu kantor satu ke kantor lain saya tawarkan produk dan gagasan saya. Tetapi belum ada juga yang meliriknya.
Dari pemerintah daerah akhirnya saya dibantu untuk mengikuti pasar murah dari desa ke desa lain di wilayah Kediri.
Memang hasilnya tidak seberapa, tapi minimal orang semakin kenal dengan sosok saya, kerana di Desa tidak banyak yang makan daging, begitu pendapat teman-teman menghibur saya.
Akhirnya hati saya goyah juga, dengan sisa dana yang ada saya beranikan diri untuk coba menulis e-mail kepada seorang Doktor di sebuah perguruan tinggi negeri untuk curhat tentang pengalaman saya dalam merintis usaha papaian ini, dari mulai di Kalimantan selama 3 tahun sampai di Kediri serta orang-orang disekitar bisnis tersebut yang saya temui ternyata semuanya mafia saya ceritakan semua dalam e-mail, tetapi hasilnya sungguh diluar dugaan ternyata Bapak MAP (begitu saja saya sebut namanya) sangat respek terhadap e-mail saya.
Beliau langsung kontak saya dan mengajak bertemu di sebuah hotel berbintang di Surabaya.
Dari perasaan yang sudah tidak punya harapan lagi timbul kegembiraan yang tiada terkira. Dalam benak saya harapan yang membumbung tinggipun tumbuh lagi.
Saat itu hari Jum'at akhir bulan November 2004, saya bertemu dengan Bapak MAP setelah sholat Jum'at. Dalam pertemuan itu Bapak MAP memperkenalkan diri sebagai salah satu pimpinan di BUMN dan beliau mengundang saya untuk datang ke Jakarta. Saya diminta untuk kantor beliau di daerah JL. HR Rasuna Said memaparkan pengalam saya di industri papain kepada staf-staf di perusahaannya .
Antara senang dan bingung saya menerima undangan tersebut. Dalam perjalanan pulang saya terus berfikir dari mana saya mendapatkan uang untuk bisa berangkat ke Jakarta. Sesampai di rumah saya menyampaikan undangan tersebut kepada keluarga dan memang saat itu sedang paceklik jadi orang tua saya pun tidak ada uang,. Dalam sholat saya menangis dan menggantungkan semuanya kepada Alloh kalau memang itu jalan yang terbaik pasti saya bisa berangkat tetapi bila tidak saya berusaha menanamkan ke hati saya itu buruk bagi saya.
Undangan itu hari Senin (minggu berikutnya) jadi saya hanya punya waktu 2 hari untuk menyiapkan segala sesuatunya.
Ternyata Alloh memberi jawaban do'a saya, hari itu Sabtu sore ada tamu yang datang ke rumah untuk mencari saya, dan ternyata kedatangannya mau membeli generator. Dan memang harta yang paling mahal yang saya miliki satu-satunya adalah sebuah generator dari China yang berniat saya jual.
Alhamdullilah ternyata keajaiban itu masih ada di jaman ini, waktu itu generator itu dibeli dengan harga Rp. 400.000,- cukuplah untuk biaya saya ke Jakarta pikir saya.
Dengan persiapan seadanya saya berangkat hari Minggu dengan kereta Matarmaja jurusan Malang-Jakarta. Dalam perjalanan saya terus berdo'a, karena hanya Alloh-lah satu-satunya tempat saya menambatkan harapan dan berkeluh kesah.
Pagi itu jam 07.30 hari Senin saya sampai di stasiun Jatinegara dan menurut teman seperjalanan yang paling dekat ke Rasuna Said. Setelah mandi di stasiun saya menuju ke kantor pak MAP dengan naik Ojek agar bisa cepat sampai karena beliau mengharap saya datang sebelum jam 10.00.
Allamdulillah saya akhirnya sampai di sebuah bangunan yang sangat megah menurut pandangan saya saat itu. Jam menunjukkan pukul 09.00 saya langsung ke sekuriti untuk melapor. Oleh sekuriti saya langsung dipersilahkan ke lantai 2 gedung itu, dan saya langsung disambut oleh Pak MAP.
Setelah cerita panjang lebar sayapun diperkenalkan dengan staf beliau yang akan mendampingi saya untuk presentasi.
Ternyata yang datang bukan hanya staf strategis di perusahaan itu tetapi Diretur Utama juga hadir sedang bapak MAP tidak bisa hadir karena ada pertemuan dengan menteri BUMN dan menteri perindustrian.
Dalam pemaparan saya bicara apa adanya, memang ada grogi dalam hati saya tetapi saya berusaha bicara sewajar dan gaya bahasa saya sendiri sebagai orang awam. Akan tetapi karya-karya saya saya tunjukkan semua dan bagaimana hasil uji ucoba secara market serta komentar-komentar dari pembeli saya.
Dari peserta rapat itu banyak sekali komentar baik yang mencibir, sampai dengan yang senang dengan kehadiran saya. Tapi Alhamdulillah saat itu bapak Dirut mengatakan siap mendukung usaha ini dan berencana untuk membuat proyek strategis pengembangan papain ini.
Saat itu hati saya sungguh bahagia, bangga bercampur menjadi satu.
Setelah rapat itu oleh staf beliau saya dipersilahkan menginap di sebuah hotel untuk beberapa hari, tetapi saya menolak karena saya ingin segera pulang dan menceritakan kebahagiaan ini kepada istri dan keluarga.
Saya langsung pulang, saat itu saya dibelikan tiket kereta Bima jurusan Jakarta - Surabaya, serta diberi uang saku yang cukup lumayan. Tak lupa saya berpamitan dengan Pak MAP beserta staf beliau.
Sejak saat itu saya sering pulang-pergi ke Jakarta atas undangan pak MAP, baik naik KA Eksekutif maupun pesawat bila waktunya sangat mendesak.
(Bersambung)