Senin, 28 Desember 2009

PERBAIKAN KUALITAS HIDUP


Dalam sebuah cuplikan kata bijak Mario Teguh di Face Book berbunyi “Anda tidak akan memperbaiki kualitas hidup anda tanpa memperbarui sikap anda”
Sebuah kata yang perlu kita renungkan bersama. Hakikat apa kita menuntut ilmu adalah suatu bentuk pembelajaran dan pendewasaan dalam cara pandang fikiran kita tentang kehidupan. Tuhan menciptakan kita sebagai pemimpin di muka bumi dengan dikaruniakan fikiran dan bentuk terbaik bukankah mempunyai maksud agar kita menjadikan bumi yang kita diami ini semakin nyaman dan baik ?
Bukankah tujuan kita dalam hidup adalah pencapaian kebahagian ?
Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan sejenis dengan maksud yang sama yaitu peningkatan kualitas hidup manusia sebagai insan individu dan makhluk sosial membaik.
Memperbarui diri sendiri bukan suatu pekerjaan yang mudah, karena kita akan sulit melihat kekurangan diri kita tanpa memiliki kearifan berfikir dan pendalaman keimanan yang cukup.
Bahkan kita sering sadar sikap yang kita buat itu salah akan tetapi cepat-cepat kita cari alasan pembenaran kenapa kita melakukan suatu tindakan yang salah itu. Bukankah begitu ?
Memang musuh utama dalam kehidupan kita adalah diri kita sendiri (hawa nafsu), dan perlu management emosi yang terus dilatih dan dilatih setiap saat agar kita akhirnya secara bertahap dapat memperbarui diri kita.
Dan sekali lagi kata-kata itu berulang :
ANDA TIDAK AKAN MEMPERBAIKI KUALITAS HIDUP TANPA MEMPERBARUI SIKAP ANDA”
MARI BERSAMA-SAMA KITA MERENUNGKANNYA.

SALAM

Minggu, 22 November 2009

Jumat, 20 November 2009

PROMEAT "Natural Meat Tenderizer"


Banyak ibu-ibu yang mengeluh akan sulitnya memasak daging agar anak-anak mereka mau menyantap masakan daging yang dihidangkan.
Sebagaimana kita tahu hewan ternak di Indonesia kebanyakan bukan merupakan yang khusus untuk pedaging. Akan tetapi banyak peternak memakai hewan ternak mereka seperti sapi digunakan untuk membantu pekerjaan mereka baik di sawah maupun ladang mereka, seperti membajak dan sebagai alat transportasi untuk membawa beban.
Belum lagi cara pemotongan hewannya yang dikerjakan secara tradisional sehingga sewaktu hewan akan dipotong, hewan ternak tersebut stres sehingga otot-ototnya menegang, hal inilah yang membuat karkas daging menjadi keras sewaktu dikonsumsi.
Agar daging sapi atau ayam agar empuk, biasanya ibu-ibu merebusnya sekitar 1 - 2 jam. Cara ini disamping merusak sebagian besar gizi, boros bahan bakar, juga banyak mengalami kegagalan karena meski daging sudah direbus sekian waktu. Sewaktu di campur dengan bumbu dan di hidangkan, tetap saja daging masih keras dan sulit untuk dikunyah.

Solusi bagi ibu-ibu agar mudah dalam memasak daging, kami persembahkan bumbu pengempuk daging PROZYME, yang menggunakan bahan aktif enzyme papain yaitu bahan yang diekstrak dari getah pepaya. Penggunaan Prozyme sangat mudah, dengan menaburkannya secara merata di seluruh permukaan daging dan didiamkan selama 5 menit, daging langsung bisa dimasak bersama bumbu dan daging akan empuk alami.
Prozyme sangat aman untuk dikonsumsi dan tidak beracun dan tidak menimbulkan efek samping bila tertelan.
Bila memasak daging unggas seperti ayam atau itik, kulit harus di sayat-sayat agar Prozyme dapat meresap ke daging.

Komposisi Prozyme : Enzyme Papain (ekstrak getah pepaya), tepung jagung, gula dan garam.
Dosis pemakaian : 10 gram (1 sendok makan) untuk 1 kg daging
Kemasan : 100 gram dalam botol plastik tembus pandang
1 karton isi 40 botol
Bentuk : powder halus berwarna putih

SEDIKAN SELALU PROZYME DI DAPUR ANDA

Sabtu, 17 Oktober 2009

URBANISASI DAN KREATIVITAS

Setiap tahun angka urbanisasi di Indonesia terus meningkat, terutama selepas idul fitri. Pemicunya tidak lain anggapan bahwa orang-orang dikota besar mudah mencari nafkah dan banyak yang hidup mewah karena di kota besar banyak menyediakan lapangan pekerjaan. Meski pemerintah setempat telah berupaya keras untuk membatasi dengan mempersulit akses masuk, tetapi tetap saja banyak yang nekad untuk masuk juga.
Bila saja terjadi suatu kerjasama penanggulangan urbanisasi dan program kerjasama antara pemerintah daerah kota besar dan wilayah pedesaan di sekitarnya, misalnya : memberikan dan memudahkan kesempatan bagi pemilik modal dan orang-orang kreatif untuk menciptakan peluang kerja di pedesaan, maka angka urbanisasi mungkin bisa sedikit ditekan sehingga tingkat kesenjangan desa dan kota bisa dipersempit, proyek-proyek pemberdayaan masyarakat diberikan kepada kelompok masyarakat agar lebih kreatif menciptakan suatu karya dan membantu dengan tuntas sehingga setelah dilepas maka masyarakat tersebut terus bisa menjalankan bisnisnya.
Seperti yang dilakukan oleh Wali kota Surabaya, dengan membuat pemberdayaan masyarakat nelayan. Mereka dibina untuk menciptakan produk dari hasil tangkapan ikannya menjadi produk-produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi, selanjutnya pemerintah memasukkan produk tersebut ke pasar swalayan terkenal dengan embel-embel "PRODUK UNGGULAN SURABAYA", dan terus melakukan pendampingan hingga tuntas.
"Salut bagi Pemda Surabaya".
Alangkah bahagianya menjadi warga bangsa ini bila semua daerah bisa mengikuti jejak Pemda Surabaya ini.
Tetapi ada saja pemerintah daerah yang melakukan sebaliknya, otonomi daerah yang alasannya demi untuk meningkatkan kesejahteraan daerah tetapi belum bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di daerah, dan kesejahteraan itu hanya dirasakan oleh segelintir orang yang berdekatan dengan penguasa daerah tersebut.
Sebagai contoh nyata, Undang-undang No. 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah.
Dalam undang-undang ini usaha yang dimaksud dijamin pembinaan dan pengembangannya oleh pemeritah, baik perijinan, permodalan, keberadaannya maupun segi promosi dan pemasaran. Pemerintah telah mengaturnya dengan sangat detail dalam undang-undang ini, tetapi apa lacur,pemerintah daerah tersebut mengeluarkan peraturan bahkan hanya berupa surat edaran yang membuat usaha mikro kecil sulit mendapatkan akses perijinan karena biaya yang tinggi dan segudang birokrasi yang berbelit-belit dan lama.
Apakah pemerintah daerah tersebut tidak tahu atau tidak mau tahu dengan keberadaan undang-undang no. 20 tahun 2008 tersebut ? Wallohu alam....
Bukankah kreatifitas itu banyak datang dari orang-orang kecil yang ingin merubah hidupnya dengan hanya mengandalkan modal tenaga dan pikiran yang dikaruniakan Tuhan ?
Bukankah banyak pengusaha yang saat ini sudah menjadi besar dulunya berangkat dari orang kecil yang berusaha mengeksploitasi kreativitas dirinya demi merubah jalan hidup dan nasibnya ?
Belum lagi orang kecil yang kreatif ini nantinya setelah karya yang dia hasilkan laku di pasar, lawannya datang dari penjiplak-penjiplak yang banyak berkeliaran di negeri kita.

Sesungguhnya banyak peluang usaha yang bisa kita kembangkan di pedesaan, yaitu bidang industri dengan bahan dasar produk pertanian dan perkebunan. Bukankah negara-negara Eropha dan Timur Tengah bingung dengan stok pangan mereka ?, bukankan peluang ini bisa ditangkap oleh wirausahawan di desa agar bisa mengembangkan bisnisnya di kampung halaman ?
Seperti halnya Vietnam, Kamboja dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, telah menarik banyak investor Eropha dan Timur Tengah untuk memanamkan modalnya dalam bidang pertanian tanaman pangan. Mereka mempermudah akses masuk dengan bekerja secara sinergis dari Pusat ke daerah mempermudah peraturan investasi dan lain sebagainya agar investor secepatnya menggerakkan perekonomian di pedesaan.
Duta besar Indonesia untuk Kerajaan Kanboja pernah mengatakan dalam suatu acara sosialisasi pameran produk Indonesia di Pnom Phen : "Perdana mentri Kamboja saat ini berpedoman harus memproduksi bahan makanan sebanyak-banyaknya agar bisa bertahan, bukankah dengan memiliki pangan mereka bisa bertahan dalam kondisi apapun, sebaliknya bila hanya memiliki energi atau apapun di dunia ini tanpa memiliki makanan maka mereka sulit untuk bisa hidup".
Dari pedoman yang sangat sederhana ini memiliki makna yang cukup dalam bagi kita, sehebat apapun suatu negara, baik dibidang Energi, teknologi maupun apapun, bila tidak memiliki sumber pangan, suatu saat akan menjadi musnah bila tidak ada suplay. Tetapi sebaliknya bila sumber pangan melimpah, gizi dan kesehatan masyarakat terjamin, maka niscaya negara tersebut akan menjadi negara yang dapat menjalankan roda pemerintahan yang baik dan suatu saat akan menjadi negara yang besar (tentunya dengan didukung faktor pendidikan dan politik yang baik pula).

Sungguh sangat ironis memang hidup di negeri yang kaya akan potensi baik budaya, kekayaan alam dan sumber daya manusia ini.
Dari kesemua uraian diatas dapat kita tarik satu benang merah yang menyebabkan negeri kita masih sulit keluar dari banyak kesulitan yaitu mentalitas dan keimanan bangsa ini memang perlu dibenahi sampai tuntas.

Senin, 12 Oktober 2009

PAPAIN BIOKATALITIK DARI GETAH PEPAYA

Papain adalah enzyme yang dihasilkan oleh tanaman pepaya (Carica Papaya Lin.) Enzyme itu sendiri adalah suatu bahan biokatalisator untuk mempercepat suatu reaksi biokimia.
Enzyme Papain termasuk dalam enzyme protease yaitu biokatalisator yang dapat mempercepat kerja penyederhanaan protein menjadi asam amino.
Pada dasarnya papain terdapat di seluruh bagian tanaman pepaya kecuali pada akar dan biji pepaya, akan tetapi kondisi terbanyak adalah pada buah yang masih muda.
Penyadapan getah pepaya dilakukan pagi hari karena kondisi sekitar masih dingin dan lembab sehingga getah keluar cukup banyak dan tidak mudah teroksidasi, kerana bila getah telah teroksidasi maka kualitas enzymenya akan mengalami penurunan kualitas.
Pengolahan getah pepaya ini harus sangat hati-hati karena sangat muda mengalami degradasi kualitas bila tidak ditangani dengan benar, misalnya pisau sadap yang tidak steril, terbuat dari logam yang mudah berkarat dan lain-lain sampai wadahnyapun harus dari bahan yang tidak mudah mengkontaminasi getah pepaya.
Kegunaan papain sendiri pada dasarnya yaitu untuk membuat bahan hidrolisa protein agar mudah dalam penggunaan selanjutnya.
Seperti misalnya untuk membuat hidrolisat protein ikan untuk pakan ternak, protein hidrolisa untuk umpan lalat buah (protein beat), stabilizer beer dan lain sebagainya.
CV. Papaya Nusantara Indonesia Mandiri saat ini telah memproduksi produk Natural Meat tenderizer yaitu bumbu pengempuk daging dg merk dagang PROMEAT.
Cara kerja bumbu ini dengan hanya menaburkan ke seluruh permukaan daging (harus dibasahi dengan air untuk proses hidrolisa) dan dibiarkan selama 5 - 10 menit, untuk selanjutnya daging bisa dimasak.
PROMEAT ini telah memiliki sertifikat Halal dari LP-POM MUI, dan telah diperdagangkan di beberapa Supermarket di Pulau Jawa.
Secara ilmiah dapat dijelaskan bahwa bahan ini dapat melunakkan daging, pertama-tama papain bergabung dengan air yang selanjunya melakukan penetrasi kedalam serat daging dan selanjutnya mengadakan reaksi pemutusan. Reaksi pemutusan yang pertama dilakukan pada serat glikogen daging, dan selanjutnya bila telah selesai pada serat glikogen maka dilanjutkan pada serat protein daging. Papain sendiri tidak ikut bereaksi, dia hanya sebagai bahan yang membantu mempercepat reaksi sedang yang bereaksi secara langsung adalah air itu sendiri.
Proses ini dalam ilmu kuliner disebut proses pelayuan dagin.
Proses ini sebenarnya sama bila kita merebus daging agar lebih empuk. Akan tetapi dengan memakai PROMEAT prosesnya tanpa melibatkan panas sehingga terjamin keutuhan protein daging dan tidak rusak (terdenaturasi).
Apa pula denaturasi itu ?
Denaturasi protein adalah proses dimana protein telah berubah bentuk tiga dimensinya (bentuk awalnya) hal ini akan membuat protein itu hanya berupa sampah organik bila kita makan karena khasiatnya protein ini terdapat pada bentuk tiga dimensinya. Misalkan saat awal protein ini berbentuk kubus, setelah dalam prosesnya karena melibatkan panas dan lain-lain selanjutnya protein berbentuk persegi panjang, maka protein ini sudah terdenaturasi dan tidak lagi bisa berguna bagi tubuh kita bila dikonsumsi.
Jadi dalam memasak daging kita tidak boleh terlalu lama agar kandungan proteinnya tetap utuh atau tidak banyak yang rusak.
Setelah mengalami pasang surut dalam mencari jati diri, akhirnya saya memutuskan untuk mengerjakan usaha ini bersama istri. Akhirnya saya membuat CV. Papaya Nusantara Indonesia yang kemudian menjadi CV. Papaya Nusantara Indonesia Mandiri sampai saat ini. Alhamdulillah kami telah bisa mengembangkan perusahaan ini berdua dari mulai modal Rp. 500.000,- saat ini bisa memiliki lahan pepaya 7 hektar dan produk kami telah menyebar di seluruh Pulau Jawa dan kami telah menjadi suplyer tetap bebarapa perusahaan besar di Tanah Air dan Jepang, serta saat ini mulai menjajaki kerjasama dengan perusahaan Korea Selatan.
Semoga apa yang kami kerjakan akan menjadi manfaat bagi sesama.... Amin

Minggu, 04 Oktober 2009

Getah Pepaya Sejuta Manfaat (3)

Tiada daya kekuatan melainkan hanya milik Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan Alloh yang Maha berkuasa membolak-balikkan hati manusia.
Singkatnya setelah kira-kira 3 bulan saya menhadiri undangan dari bapak MAP, saya resmi diminta untuk bekerja di Jakarta, saya ditempatkan sebagai staf ahli di perusahaan PT. ATNP, sekitar 8 bulan saya bekerja di perusahaan itu tetapi sayang manageman tidak menerima saya dengan baik bahkan semua program yang saya rencanakan tidak berjalan dengan mudah dan akhirnya pada bulan November atau Desember tahun 2005 saya mendapat kepastian bahwa dukungan proyek papain saya tidak dapat dilanjutkan oleh perusahaan, dan akhirnya sayapun memutuskan untuk pulang kampung.
Sakit rasanya menerima kenyataan itu, dengan perasaan yang sangat terguncang memang hanya Tuhanlah tempah saya mencurahkan isi hati ini.
Singkat ceritapun saya pulang kembali ke Kediri.
Saya mulai menata lagi bisnis yang selama ini saya tinggalkan, tetapi Alhamdulillah dari gaji saya masih bisa mengumpulkan modal usaha. Mulai saya susun strategi-strategi marketing (tentunya yang paling murah) dan edukasi produk saya kepada calon pelanggan.
Tidak sia-sia pula saya bekerja walau singkat di PT. ATNP serta letaknya yang berada di pusat perdagangan dan pusat pemerintahan negeri ini, semakin membukakan mata dan pikiran saya untuk berbuat yang lebih dan lebih.

Saya awali strategi dengan mendatangi kantor-kantor pemerintahan yang sering mengadakan pameran di Jakarta, Seperti Kementrian Koperasi dan UKM, Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, dan tak lupa pula kantor perwakilan Pemda Jawa Timur di Jakarta.
Saya pameran pertama kali sekitar bulan Mei 2006 di JCC, dan hasilnya cukup bagus, ternyata mengedukasi masyarakat Jakarta sangat mudah sehingga hanya 3 hari produk saya habis, padahal kemasannya waktu itu masih sangat pas-pasan.
kemudian oleh Pemda Kediri saya diikutsertakan pameran di Surabaya.
kali ini hasilnya sangat jauh dari perkiraan, produk yang saya bawa sekitar 80% harus saya bawa pulang lagi.
Pameran selanjutnya di Jakarta, kali ini saya berangkat dengan optimis tinggi untuk mendapatkan Buyer ataupun distributor besar untuk produk saya.
Pameran itu cukup lama yaitu selama 10 hari, pengunjung begitu banyak tetapi hampir dikatakan tidak ada hasil (waktu itu) jangankan buyer pembelipun tidak ada yang beli produk saya, akhirnya saya putuskan untuk membagikan beberapa produk saya kepada pengunjung yang mau bertanya.
Pada saat itu ada kejadian yang sangat menarik bahkan mungkin pembaca bisa renungkan, lagi-lagi Tuhan menunjukkan kekuasaannya dan memberikan rezki yang tiada kita duga datangnya. Waktu itu jam menunjukkan pukul 14:30 saya akan berangkat ke stasiun Senin untuk pulang naik Bangunkarta eksekutif (karena saya sudah pesan pp).
Saya santai saja berangkat dari rumah pondokan sementara saya di Daerah Angkasa Kemayoran karena perjalanan ke Stasiun Senin hanya sekitar 20 menit.
Waktu itu jalanan sangat macet sehingga saya sampai di stasiun sekitar pukul 15:15, sayapun masih santai karena saya pikir kereta berangkat jam 5:00 sore. Sesampai di pintu masuk baru saya sadar bahwa saya tertinggal kereta. Karena ternyata kereta berengkat 15:00.
Saya waktu itu sangat panik memingat pameran saya sudah tanpa hasil dan uang di sakupun sudah sangat menipus. Akhirnya saya disarankan untuk ke kepala stasiun oleh petugas dan saya diberi dispensasi untuk ikut kereta ekonomi satu-satunya yang berangkat ke Surabaya hari itu. Alhamdulillah (Bersambung)